Jumat, 08 Mei 2009

Membentang Songket Menyeberangi Selat Malaka

Oleh : Jalaluddin Ibrahim

Medan – Jilbabnya tak pernah lepas dari kepala Hj Ratna (49), sedangkan tangannya terus sibuk menarik dan mendorong sebatang kayu yang terdapat di depannya di antara puluhan baris benang. Ratna terus sibuk menggerakkan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di hadapannya sambil sesekali melepaskan benang sutra dari gulungannya.

Sudah sejak usia 12 tahun menenun songket digeluti warga Desa Padang Genting Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara, Sumatera Utara itu. Turun temurun keahlian menenun kain pakaian kebesaran Melayu itu digeluti oleh 80 persen kaum perempuan di kabupaten tersebut untuk ikut menopang perekonomian keluarga. Maklum, lebih 60 persen dari warga Kabupaten Batubara bermata pencaharian melaut.

“Sampai sekarang, saya memiliki seratusan alat tenun yang dikelola oleh masyarakat di Kecamatan Talawi. Pekerjanya mulai dari siswa sekolah hingga wanita lanjut usia,” kata ibu empat anak itu.

Pasar tenun songket produksi Ratna pun telah menembus pasar nasional hingga internasional. Pedagang maupun warga asal berbagai propinsi luar Sumatera Utara; Pekanbaru, NAD dan Jakarta datang menempahkan songket padanya, sekadar untuk dipakai dalam acara resmi seperti resepsi pernikahan hingga untuk kepentingan dagang semata. Bahkan pada peringatan kemerdekaan RI ke 63 kemarin, atas saran pemerintah Kabupaten Batubara, songket tenunannya juga menjadi salah satu penghias Istana Negara di Jakarta.

Tak sebatas itu, pada 23 Agustus lalu, rumahnya kedatangan Datuk Abdul Latif Abu Bakar, Pengusik Institut Seni Malaysia Malaka, utusan Pemerintah Di Raja Malaysia. Songket tenunannya direncanakan untuk dijadikan sebagai seragam kenegaraan pejabat kerajaan Malaka tersebut. Meski masih menunggu proses tender, 50 potong songket bermotif Bunga Kesidang siap diangkut ke Malaysia.

Selain akan dijadikan sebagai seragam kenegaraan pejabat Malaysia, songket Batubara hasil tenunan Ratna akan dibawa ke Malaysia untuk dijadikan contoh pengembangan songket Melayu Malaysia. Apalagi, konon Malaysia disebut-sebut telah melupakan kebudayaan mempergunakan songket sebagai pakaian daerah di negara jiran itu.

“Mereka datang setelah melakukan survey ke beberapa daerah penghasil songket di Indonesia, mulai dari Riau, Palembang, Sambas di Kalimantan dan Sulawesi hingga Kelantan serta Trenggano, Malaysia. Tapi Datuk utusan Kerajaan Malaysia lebih memilih untuk menempahkannya di Batubara,” tambah Ratna lagi.

Meski terlihat sederhana, Ratna mengaku pembuatan songket bukanlah pekerjaan mudah. Untuk mengerjakan satu potong kain songket ukuran dua meter, dibutuhkan waktu tujuh hingga 12 hari. Bergantung pada tingkat kerumitan motif yang dituangkan pada kain. Motif yang dibuat juga beraneka ragam, sesuai dengan falsafah yang diyakini masyarakat Melayu nusantara. Pucuk Rebung, Bunga Manggis, Bunga Cempaka, Pucuk Caul, Tolak Betikam hingga Naga Berjuang menjadi motif yang menghiasi kain songket Batubara.

Keragaman, tingkat kesulitan hingga waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan songket pun menjadikan kain yang dipakai sebagai pakaian kebesaran tersebut dibandrol dengan harga bervariatif. Satu potong songket dipasarkan mulai dari harga Rp 150 ribu untuk jenis kerudung hingga Rp 2 juta rupiah untuk kain sarung. Sementara biaya yang harus dikeluarkan, dipergunakan untuk membeli benang sutra dan polyester dengan kebutuhan 45 ribu meter benang untuk menghasilkan satu potong kain songket ukuran dua meter.

Dari menjual 200 potong kain songket seharga tadi pula menjadikan Ratna dua kali menjalankan rukun Islam kelima, menunaikan ibadah haji. Bersuamikan Yusufuddin (52), PNS di Departemen Perhubungan Laut Tanjung Balai, pasangan suami isteri itu menamatkan seorang puteri dengan gelar sarjana dan masih harus membiayai dua puteri lainnya yang kini tengah memasuki semester akhir di Fakultas Kedokteran Universitas ternama di Kota Medan. Sedangkan seorang lagi masih SMA.

Meski menenun pesanan songket dengan berbagai corak dan warna dari berbagai propinsi di tanah air hingga ke mancanegara, namun tidak satu pun songket tenunan Ratna yang diberi merek dan tidak satu pun juga yang telah ia daftarkan di Lembaga Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Hingga dalam beberapa kali pameran kebudayaan yang digelar di berbagai tempat di Indonesia, Ratna sempat beradu argumen dengan peserta pameran lain asal propinsi penghasil songket lainnya, yang mengklaim songket di stan pamerannya sebagai produksi daerah asalnya.

Harga yang dibandrol untuk tiap potong songket karya Ratna juga masih berbanding lebih murah dengan harga jual kain songket sejenis, asal Malaysia, India dan Pakistan yang dijual seharga 20 hingga 100.000 Ringgit.

Sumber: http://jalalputra.blog.friendster.com/

Seja o primeiro a comentar

Poskan Komentar

Songket Batu Bara © Layout By Hugo Meira.

TOPO